Sambut Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM), LPPM IAIN Ponorogo Sukses Mengadakan Workshop Pengembangan Pengabdian Masyarakat berbasis MBKM

(02/12/21) MBKM merupakan inovasi pendidikan yang akhir tahun ini semakin mencuat ke ruang publik akademik. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makariem, menyebut bahwa MBKM akan memberi kebebasan dan otonomi kepada lembaga pendidikan dalam melakukan terobosan termasuk dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus memangkas beban kerja yang birokratif. Hal ini sebagaimana terdapat dalam beberapa forum kajian MBKM yang dipresentasikannya di laman https://youtu.be/vh-rdXvt0Dw.

Dihadiri oleh sekitar 50 tamu undangan, baik dari internal dan eksternal seperti Ketua LPPM INSURI, UNIDA dan IAI Ngawi, LPPM IAIN Ponorogo merespons MBKM sebagai bagian penting untuk pengembangan pengabdian masyarakat, terlebih jika sudah muncul aturan yang baku di tingkat institut. “Kita saat ini masih dalam tataran mencari titik temu antar stakeholder di lingkungan IAIN. Namun, dengan hadirnya MBKM ini, tentu akan meningkatkan kualitas mahasiswa jika memang mampu diimplementasikan di kampus kita,” tegas Arif Rahman Hakim, M.Pd.I selaku ketua panitia Workshop ini.

Bertempat di Hotel Gajah Mada, Ponorogo, acara ini kemudian dibuka langsung oleh ketua LPPM IAIN Ponorogo, Dr. Ahmadi, M.Ag. Ia menyambut baik MBKM dengan menegaskan bahwa program Kemendikbud ini, meskipun tidak lahir dalam lingkungan Kemenag, namun spirit yang bisa diambil adalah merubah paradigma bahwa yang selama ini mahasiswa ibarat hanya berenang dalam satu arena saja, kini mereka harus mampu adaftif dengan lingkungan yang berjalan begitu pesat. “Lulusan perguruan tinggi jangan hanya terpaku pada hard-skill yang ia miliki, namun juga harus memanfaatkan soft-skill yaitu dengan cara pengembangan SDM keluar, sehingga ia mempunyai daya survival yang tangguh,” pesannya di sela pembukaan.

Narasumber pada acara ini terdiri dari tiga pakar yaitu dari: 1) Kesbangpol Ponorogo (Ir. Wahyu Paripurnawan, M.M) dengan tema “Arah Pembangunan Masyarakat Ponorogo dalam Konteks Sosial Politik,” 2) Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Ponorogo (Erny Prasetyaningsih, M.E., M.Si) dengan tema “Program Pembangunan Ekonomi Rakyat Ponorogo melalui Koperasi dan UMKM,” dan 3) Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo (Dr. Pujianto, M.Pd., M.M) dengan tema “Pengembangan SDM dan Sarpras Pendidikan di Ponorogo.”

Ketiga tema dipaparkan dengan sukses oleh ketiga narasumber, terlihat dari respons dan tanggapan positif dan antusias dari beberapa peserta yang hadir. Adapun titik temu antara narasumber, civitas akademika dan tim LPPM berkaitan dengan pengembangan pengabdian kepada masyarakat berkaitan tiga tema tersebut adalah semakin jelasnya informasi dan data yang sangat diperlukan oleh LPPM dalam mengembangkan metode yang tepat untuk menyambut program MBKM.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Forum Group Discussion (FGD) yang dipimpin langsung oleh ketua LPPM, Ahmadi: dibersamai sekretaris LPPM (Fery Diantoro), juga Kapus Pengabdian Masyarakat (Arif Rahman Hakim). Dalam FGD ini terjadi penyampaian antar perspektif berkaitan dengan bagaimana optimalisasi kegiatan pengabdian masyarakat, baik yang dilakukan oleh para dosen atau mahasiswa, agar mampu adaptif dengan inovasi-inovasi yang sedang dicanangkan pemerintah seperti MBKM. Diskusi ini dimulai oleh Kapus Pengabdian Masyarakat LPPM, Arif Rahman Hakim, dengan memantik materi berdasarkan tawaran draft pengabdian masyarakat untuk dikritisi bersama oleh seluruh peserta.

 

Alhasil, pengembangan pengabdian kepada masyarakat berbasis MBKM ini bermuara pada perlunya payung hukum yang jelas dari level institut untuk memastikan bahwa MBKM bisa kompatibel dengan program pengabdian kepada masyarakat yang sudah ada di LPPM IAIN Ponorogo. (LPPM IAIN Ponorogo)