ABOUT TAFSIR TALK

Pada tanggal 29 Februari 2020, Organisasi Mahasiswa Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu al-Qur’an & Tafsir mengadakan sebuah kegiatan About Tafsir Talk yang bertemakan “al-Qur’an dan Media baru (Tantangan Mufasir di Era Digital)”, yang dilaksanakan di aula ma’had al –Jami’ah Ulil Abshar Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Yang di bimbing oleh pemateri kita yaitu, Dr. Mohamad Latief, MA. dari Kaprodi Hubungan Internasional UNIDA Gontor dan Abu Muslim, MA. S2 Interdisipliner Islamic Studies UIN SUKA Yoyakarta. 

Kegiatan About Tafsir Talk ini bertemakan “al-Qur’an dan Media Baru(Tantangan Mufasir di Era Digital)” dikarenakan banyak bermuculan para pendakwah atapun penafsir di media sosial, dari facebook, twiter, Instagram, Youtube dan lain sebagainya. Hal tersebut didukung dengan perkembangan tegnologi yang menyebabkan para penggunanya dapat mengakses atau menyampaikan aspirasinya dengan bebas. Perkembangan tegnologi yang begitu pesat, tidak dapat membendung suatu hal yang ada dalam media sosial baiik berdampak positif atau negatif bagi penggunanya.

Dr. Latief menjelaskan hal tersebut disebabkan munculnya isu post modernisme yang dikembangkan oleh bangsa barat. Yang berdampak pada generasi muda khususnya generasi muslim yang akan merusak mereka dari dalam. Dalam keadaan yang seperti ini umat islam khususnya, lebih sulit untuk mengenali sebuah kebenaran. Apakah semua yang mereka yakini selama ini merupakan sebuah kebenaran atau sebuah kesalahan?. Munculnya post modernisme ini menyebabkan kebutaan bagi umat islam akan sebuah realita kebenaran. Hal ini dikarenakan mundurnya peradaban islam di seluruh belahan dunia yang mengakibatkan kerusakan moral, fisik, adat istiadat, udaya bahkan agama. Oleh karena itu, beliau menganjurkan kepada seluruh pelajar muslim di dunia agar lebih menigktkan lagi kapasitas dalam belajar dan berkarya dalam bidang keagamaan, sains, politik dan lain sebagainya. Agar tidak mudah di racuni oleh bangsa barat dari segi pemikiran maupun tegnologi.

Menurut pendapat dari Abu Muslim tentang al-Qur’an dengan media baru memunculkan sebuah permasalahan yangb intim. Misalnya, dahulu hanya orang-orang tertentu yang dapat menafsirkan ayat al-Qur’an seperti ulama, wali, dan kyai. Namun, di era digital ini siapapun orangnya, dapat menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan kemampuan mereka. Hal tersebut menjadi permasalahan yang signifikan, karena menafsirkan ayat al-Qur’an secara sembarangan tanpa memiliki modal metodologi penafsiran yang tepat akan menyebabkan ketimpangan dalam memaknai ayat al-Qur’an baik dari segi teks(bacaan) atau konteks (pengaplikasian dalam masyarakat). Ketimpangan-keetimpangan dalam penafsiran tersebut akan memunculkan sebuah faham baru yang mungkin bersifat radikalisme ataupun liberalisme. Bapak Abu Muslim menawarkan sebuah konsep/metodologi untuk meminimalisir dampak negatif dari media sosial dalam konteks penafsiran. Yaitu teori interpretasi, maksudnya adalah sebuah teori yang  merelasikan antara al-Qur’an dengan peristiwa yang terjadi sekarang. Al-Qur’an yang seharusnya sebagai panduan dalam kehidupan manusia, sekarang banyak yang menjadi sebuah alat untuk meperkuat sebubah ideologi, kekuasaan, politik dan lain sebagainya. Hal tersebut berakibat seakan-akan al-Qur’an tidak mampu menjawab atau menjadi sulusi dari problematika masyarakat sekarang. Oleh karena itu, teori interpretasi ini menawarkan sebuah konsep yang dimana al-Qur’an dapat berkolerasi dengan problem-problem yang terjadi sekarang serta menjadi sebuah solusi yang signifikan dalam problematika tersebut. Beliau juga menjelaskan bahwa mayoritas umat islam di era milenial ini  dalam memahami ayat al-Qur’an sangatlah sempit dan terbatas oleh suatu budaya. Misalkan dalam berpakaian harus menguti orang arab, yaitu dengan berjubah putih panjang, apabila ada suatu golongan yang berbeda dengan mereka maka akan mendapatkan justifikasi salah, bid’ah bahkan kafir. Padahal hal tersebut hanyalah sebuah budaya di masing-masing daerah. Yang terpenting dalam beragama islam adalah menanamnya nilai-nilainya dalam kehidupn sehari-hari. Ada sebuah kata mutiara yang mungkin bisa dijadikan sebuah acuan dalam penafsiran yaitu “Islam moderat tidak hanya berbentuk teks saja, tapi islam moderat memanusiakan manusia”. (Admin)